by

Liverpool, Rival Terberat Guardiola di Liga

Selama kariernya di tiga liga top Eropa, Pep Guardiola selalu menghadapi lawan-lawan yang tangguh. Tapi, Liverpool musim ini adalah yang tersulit untuk Guardiola.

Sejak debut melatih di Barcelona pada 2008, Guardiola selalu bergelimang gelar meski harus menghadapi tantangan tim-tim kuat lainnya. Di Spanyol, Real Madrid adalah musuh besar Guardiola terutama saat dilatih Jose Mourinho.

Saat pindah ke Bundesliga, ada Borussia Dortmund yang kala itu masih dilatih Juergen Klopp menjadi tantangan berat untuk Guardiola. Persaingan makin berat saat dia melatih Manchester City karena ada 4-5 tim yang jadi pesaing.

Dari sederet rival itu, Guardiola menunjuk Liverpool musim ini sebagai yang paling berat. Wajar mengingat The Reds memaksa City dan Guardiola untuk bertarung memperebutkan gelar juara hingga akhir musim. City saat ini memuncaki klasemen Premier League dengan 92 poin, hanya unggul satu poin dari Liverpool di posisi kedua dengan menyisakan dua pertandingan.

“Di liga, ya (Liverpool rival terberat). Tentu saja ini yang paling sulit. Menyenangkan rasanya jika selalu bisa menjuarai liga dan tentunya selalu sulit, tapi yang ini sungguh spesial,” ujar Guardiola kepada Sky Sports.

Di musim 2008/2009, Barca-nya Pep jadi juara dengan unggul sembilan poin atas Madrid, lalu di musim berikutnya hanya tiga poin, dan empat poin di musim 2010/2011. Sementara, di Jerman, Bayern-nya Guardiola unggul 19 angka dari Dortmund di musim perdana lalu 10 poin di musim kedua atas Wolfsburg, dan 10 poin dari Dortmund di musim ketiganya.

Setelah gagal bersama City di musim 2016/2017, Guardiola membawa City juara Premier League musim lalu dengan keunggulan 19 poin atas Manchester United yang finis runner-up.

“Dan khususnya usai kami memenangi liga dengan 100 poin dan masih bersaing di sini. Sulit untuk para atlet mempertahankan level seperti itu untuk waktu lama dan kami melakukannya lagi,” sambungnya.

“Pemain top selalu berpikir trofi juara lagi setelah mereka jadi juara, mereka sudah berpikir soal trofi berikutnya. Itulah olahraga.”

“Musim depan sama saja. Saya lebih baik mundur jika saya duduk di sini hanya untuk mengingat prestasi kami,” demikian dia.